Tuesday, April 20, 2021

Fikih 7 Sunah muakad dan ghairu muakad (21-4-21)

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga puasa kita diterima Allah SWT.

Jangan lupa berdoa sebelum di mulai dan isi absen nya.

Silahkan kalian baca, fahami dan ringkas materi di bawah ini dan jawab pertanyaanya!

Klik : absensiFI721-4-21

MATERI!!!

 

C. HIKMAH SHALAT SUNNAH MUAKKAD DAN GHAIRU MUAKKAD

1. Percaya Diri Bersama Allah Swt.

Masih ingatkah kita? Hadis riwayat muslim yang menceritakan tentang khutbah

Nabi Saw pada waktu terjadinya gerhana matahari? Jika masih ingat, apakah pesan

Rasulllah dalam khutbahnya tersebut?

Berbagai peristiwa yang diluar kemampuan logika atau nalar manusia, seperti

gerhana matahari, gerhana bulan, dan lain sebagainya bukan pertanda atau simbol yang

mengisyaratkan akan datangnya malapetaka atau bahaya. Hadis riwayat Imam Muslim

tentang khutubah Rasulullah memberi gambaran jelas dan tegas. Rasul tidak menyetujui

anggapan masyarakat Arab sebelum Islam yang memahami gerhana sebagai tanda dari

kematian dan kelahiran. Anak Rasulullah dari Marya Qibtiyyah yang bernama Ibrahim

dan meninggal pada saat terjadinya gerhana hanya kebetulan belaka. Rasul melalui

khutbah yang disampaikan ingin menegaskan gerhana tidak ada kaitannya dengan

kematian putranya atau siapa saja.

Rasulullah melalui pesan khutbahnya meneguhkan manusia harus memiliki

kepercayaan diri, sehingga tidak mudah goyah dan terombang-ambing dalam

ketidakpastian. Kepercayaan diri akan membangkitkan psikologi positif bagi kita dengan

selalu optimis dalam mensikapi seluruh peristiwa yang terjadi di lingkungan kita. Kita percaya seluruh proses kehidupan yang kita alami dan terjadi di sekitar kita sebagai

bagian dari perwujudan kekuasaan Allah sebagai Dzat yang Al-Hafidz dan Al-Wakil.

Sehingga dalam melangkah kita akan selalu optimis karena muncul perasaan Allah Swt.

bersama kita. Sebaliknya, jika kita percaya dan meyakini gerhana sebagai tanda akan

datangnya malapetaka, misalnya, maka pastilah hidup kita akan diliputi oleh perasaan

was-was, ketakutan, kebimbangan, dan kegoncangan.

Demikian pula dengan kemarau panjang kita pahami sebagai bagian dari

ketentuan Allah. Kita meyakini Allah sedang menampakkan Al-Hafidz dan Al-Wakil

kepada hamba-hamba-Nya dengan tidak menurunkan hujan. Bagi manusia sebagai

hamba yang dimuliakan oleh-Nya wajib menghayati tanda-tanda kekuasaan Allah

tersebut. Penghayatan akan memunculkan keyakinan dan ketaatan semakin mendalam

kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Penghayatan juga

melahirkan kepercayaan diri bahwa kemarau panjang dan kekeringan tidak lebih sebagai

ujian dan cobaan yang pasti Allah akan memberikan jalan keluarnya, jika kita memohon

melalui shalat istisqa’.

2. Kepercayaan Diri dan Daya Juang

Daya juang adalah sama dengan kemampuan untuk bertahan dalam segala

situasi dan kondisi. Daya juang hanya akan muncul jika kita memiliki kepercayaan yang

tinggi dalam diri kita. Oleh karena itu, kepercayaan diri menjadi syarat mutlak terhadap

munculnya daya juang.

Materi-materi yang telah kita pelajari bersama memberikan pedoman penting

bagi kita tentang pentingnya kepercayaan diri dan daya juang. Allah Swt. menguji kita

dengan kemarau panjang dan kekeringan. Sama halnya dengan Allah menguji kita

dengan kejadian-kejadian di luar nalar, seperti gerhana matahari dan bulan.

Semua ujian tersebut harus dipahami untuk menempa kita selalu memiliki

kepercayaan diri terhadap kemampuan kita dengan tidak lupa semuanya berasal dari

Allah Swt. . Orang yang tidak memiliki kepercayaan diri pasti daya juangnya rendah.

Mengalami kekeringan di tengah kemaru panjang yang dilakukan hanya mengeluh,

mencaci dan masa bodoh terhadap keadaan. Sebaliknya bagi yang memiliki kepercayaan

diri akan terus berusaha dengan berbagai cara dan salah satunya adalah memohon

kepada Allah agar menurunkan hujan melalui pelaksanaan shalat istisqa’. Melalui

pelaksanaan shalat istisqa, kita akan bertemu dengan banyak jama’ah, kemudian terjadi

Rangkuman

1. Shalat sunnah terbagi menjadi dua, yaitu: shalat sunnah mu’akkad dan ghairu

mu’akkad.

2. Shalat sunnah mu’akkad merupakan shalat yang selalu dijalankan atau dilestarikan

oleh Nabi Muhamamd Saw dan tidak ditinggalkan, kecuali sekali atau dua kali

untuk memberi petunjuk bahwa ibadah tersebut tidak wajib hukumnya.

3. Termasuk shalat sunnah mu’akkad adalah:

a) Shalat sunnah rawatib

b) Shalat tahajjud

c) Shalat witir

d) Shalat dua hari raya

e) Shalat tahiyyat masjis.

4. Shalat sunnah ghairu mu’akkad adalah sholat yang Nabi Saw tidak selalu

melakukan setiap saat, terkadang beliau melaksanakannya, tetapi juga

meninggalkannya dalam waktu yang berbeda.

5. Diantara yang menjadi bagian dari shalat sunnah mu’akkad adalah:

a) Shalat dhuha

b) Shalat gerhana mata hari

c) Shalat gerhana bulan

d) Shalat meminta hujan.

S0AL-SOAL

1. Sebutkan  macam-macam shalat sunah muakad!

2. Sebutkan shalat sunah yang meyertakan pelaksanaan khutbah! 

3. Sebutkan macam-macam shalat sunah lail(malam)!

32 comments:

  1. Muhammad Alif Daneswara
    7e
    18

    ReplyDelete
  2. Nama:Muhammad Ihsan Yahya
    kelas:7D
    No.absen:17

    ReplyDelete
  3. Nama:Nurma Nur Hidayati
    kelas:7F
    No asben:20

    ReplyDelete
  4. Nama:Ahmad Nur Rifai
    Kelas:7f
    No absen:3

    ReplyDelete
  5. NAMA:CHOIRUN NISSA ALMA AULIA
    KELAS:7D
    NOMOR:9

    ReplyDelete

SKI kelas 8 ABC (15/01/22)

Assalamu'alaikum Wr. Wb Salam sehat selalu dan tetap semangat untuk belajar, sebelum dimulai mari awali dengan berdoa. Materi hari ini t...