Assalamu'alaikum Wr. Wb
Materi hari ini sunah muakad dan ghairu muakad.
Silahkan kalian berdoa semoga selalu di beri kesehatan dan kemudahan.
Jangan lupa shalat yang tertib dan absen di bawah ini.
Klik : Absensi
MATERI BAB 9
A. SHALAT SUNNAH MU’AKKAD
1. Pengertian Shalat Sunnah Mu’akkad dan Pembagiannya
Tahukah kamu, apa yang dimaksud dengan sunnah mu’akkad? Sunnah mu’akkad
السنةلمؤكد) secara bahasa adalah sunnah yang dikuatkan atau sangat dianjurkan. Secara
istilah, sunnah mu’akkad merupakan ibadah-ibadah yang selalu dijalankan atau dilestarikan oleh Nabi Muhamamd Saw dan tidak ditinggalkan, kecuali sekali atau dua kali untuk memberi petunjuk bahwa ibadah tersebut tidak wajib hukumnya. Banyak sekali ibadah yang termasuk shalat sunnah mu’akkad, seperti shalat sunnah rawatib, shalat tahajjud, shalat witir, shalat dua hari raya, dan shalat tahiyyat masjis.
2. Shalat Rawatib dan Tata Cara Pelaksanaanya
Ayo kita cermati! Shalat rawatib merupakan shalat sunnah yang pelaksanaanya menyertai shalat fardlu lima waktu. Shalat rawatib disebut juga dengan sunnah qabliyah Bahkan shalat rawatib sangat dianjurkan karena dapat menyempurnakan kekurangankekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat fardlu lima waktu.
yang berarti dilaksanakan sebelum shalat fardlu dan sunnah ba’diyah yaitu shalat sunnah yang dilaksanakan setelah shalat fardlu. Termasuk dalam shalat rawatib yang mu’akkad adalah sepuluh rakaat rawatib, yaitu:
A. Dua rakaat sebelum shalat subuh.
Dilakukan dengan sendirian dengan tata cara seperti shalat fardlu dua rakaat. Niat shalat sebelum subuh adalah:
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sebelum shalat subuh dengan menghadap kiblat pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. ”.
Dianjurkan dalam rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlash. Juga disunnah memisah antara sunnah sebelum subuh dengan shalat subuh dengan berdzikir dan berdo’a atau perbuatan-perbuatan yang diperbolehkan lainnya.
B. Dua rakaat sebelum shalat dhuhur dan shalat Jum’at.
Tata cara pelaksanaan shalat sebelum dhuhur dan shalat Jum’at adalah sama dengan sunnah sebelum subuh. Hanya saja surat yang dibaca setelah membaca Al-Fatihan tidak ditentukan.
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sebelum shalat dhuhur/Jum’at dengan menghadap kiblat pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. ”.
C. Dua rakaat sesudah shalat dhuhur dan shalat Jum’at.
Tata cara pelaksanaannya seperti shalat sunnah sebelum shalat dhuhur dan Jum’at, dengan niat sebagai berikut:
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat dhuhur/Jum’at dengan menghadap kiblat
pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. ”.
D. Dua rakaat sesudah shalat maghrib.
Tata cara pelaksanaan shalat sunnah sesudah shalat maghrib sama dengan sunnah sebelum shalat subuh. Termasuk bacaan surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash setelah membaca Al-Fatihah dalam sunnah sebelum shalat subuh juga dianjurkan dibaca dalam shalat sunnah setelah shalat maghrib. Niat shalat sunnah sesudah maghrib
adalah:
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat maghrib dengan menghadap kiblat pada
saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. ”.
E. Dua rakaat sesudah shalat Isya’.
Tata cara pelaksanaan shalat sunnah sebelum isya’ sama dengan shalat sunnah sebelum shalat dhuhur atau Jum’at.
Artinya:
“Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat Isya’ dengan menghadap kiblat pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. ”.
3. Shalat Tahajjud dan Tata Cara Pelaksanaannya
Ayo kita cermati! Shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang dikerjakan setelah shalat Isya’ setelah terjaga dari tidur, meski tidurnya dalam waktu yang singkat. Waktu terbaik dilaksanakannya shalat tahajjud adalah sepertiga malam terakhir. Tidak ada batasan jumlah rakaat paling banyak dalam tahajjud, tetapi paling sedikitnya adalah satu rakaat seperti dalam shalat witir. Niat shalat tahajjud adalah:
Artinya:
”Aku berniat shalat tahajjud dua rakaat hanya karena Allah Swt.
4. Shalat Witir dan Tata Cara Pelaksanannya
Apa yang kita pahami tentang shalat witir? Shalat witir merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari setelah shalat isya’ sampai terbitnya fajar atau waktu shalat subuh. Pelaksanaan shalat witir pada bulan ramadhan berbeda dengan hari-hari selain di bulan ramadhan. Apa yang kita temukan? Terdapat perbedaan pelaksanaan shalat witir pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan selainnya. Dalam bulan ramadhan, shalat witir biasanya dilaksanakan setelah shalat tarawih secara berjama’ah. Sedangkan jumlah rakaatnya
biasanya ada tiga dengan dua kali salam. Pada salam pertama, jumlah rakaat ada dua dengan niat shalat sebagai berikut:
Artinya:
“Aku berniat shalat witir dengan dua rakaat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya
karena Allah Swt. ”.
Sedangkan pada salah kedua jumlah rakaat hanya satu dengan niat shalatnya
adalah:
Artinya:
“Aku berniat shalat witir dengan satu rakaat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya
karena Allah Swt. ”.
Surah yang dibaca dalam rakaat pertama adalah Surah Al-A’la (87) dan rakaat keduanya membaca Surah Al-Kafirun (109). Sedangkan dalam rakaat kedua membaca tiga surah pendek, yaitu: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Sedangkan waktu pelaksanaan shalat witir di luar bulan ramadhan dapat disegerakan atau di akhirkan. Bagi orang yang khawatir sulit bangun malam dianjurkan menyegerakan dan bagi yang mudah terjaga dari tidurnya dianjurkan mengakhirkan di sepertiga malam. Ayo kita bandingkan! Jumlah rakaat dalam shalat witir selain bulan ramadhan adalah tidak terbatas, tetapi harus tetap ganjil dan dilakukan secara sendirian.
5. Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanannya
Pernahkah anda memutuskan berakhirnya puasa ramadhan setelah mendengar
keputusan Sidang Itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama? Shalat hari raya idul fitri
merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan setelah berakhirnya puasa ramadhan, tepat
pada tanggal satu syawal. Cara yang paling umum untuk menentukan akhir bulan
ramadhan adalah mengikuti keputusan Sidang Istbat yang dipimpin oleh Menteri Agama
dan dihadiri organisasi-organisasi keagamaan Islam di Indonesia.
Ayo kita pahami! Shalat hari raya memiliki tata cara pelaksanaan yang diatur
secara ketat. Meskipun hukum shalatnya itu sendiri adalah sunnah mu’akkad. Rangkaian
pelaksanaan shalat hari raya idul fitri hmpir sama dengan shalat Jum’at yang menyertakan
adanya dua khutbah sebagai bagian satu kesatuan.
Ayo kita cermati penjelasan berikut!
1 Mandi sunnah dengan niat untuk melaksanakan shalat hari raya idul fitri.
2 Memaki wewangian.
3 Memakai pakaian yang paling bagus.
4 Disunnahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri
5 Bagi imam disunnahkan mengundur sedikit pelaksanaan shalat idul fitri untuk
menyelesaikan zakat fitrah
6 Hendaknya berjalan kaki sambil bertakbir terus-menerus mulai berangkat dari
rumah hingga tiba di masjid.
7 Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dikerjakan sebelum khutbah
8 Tidak ada adzan dan iqamah dalam shalat Hari Raya. Imam shalat cukup
mengucapkan “Asshalatu jami’ah”
9 Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada rakaat pertama diawali dengan takbiratul
ihram dan 7 kali takbir. Raka'at kedua membaca rakbir sebanyak lima waktu
(selain takbir saat berdiri)
10 Di antara dua takbir diperbolehkan membaca tasbih, tahmid dan shalawat secara
keseluruhan atau memilih salah satu dari ketiganya
11 Pada setiap takbir mengangkat kedua tangan
12 Bacaan surah setelah Al-Fatihah pertama adalah surat Qaf dan rakaat kedua
adalah surat Al-Qamar. Dapat pula membaca surah Al-A'la pada rakaat pertama
dan Al-Ghasiyah pada rakaat kedua
13 Disunnahkan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulangnya
14 Hendaknya semua umat Islam, laki-laki. perempuan, anak-anak, dewasa, maupun
orang tua keluar ke masjid untuk mendengarkan khutbah sebagai syiar Islam.
bagi wanita yang haid maka disediakan tempat husus diluar masjid untuk
mendengarkan khutbah.
Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya Idul Fitri, dan
memisahkan kedua khutbah dengan duduk. Pada khutbah pertama khatib
disunnahkan memulainya dengan takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada
khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali.
15 Apabila khatib lupa tidak bertakbir sebanyak 7 kali (setelah takbiratul ihram langsung membaca Fatihah) atau tidak bertakbir pada rakaat kedua sebanyak 5
kali, maka shalat tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi.
Tahukah kamu, tata cara pelaksanaan shalat hari raya idul fitri memiliki perbedaan
antar umat Islam di Indonesia. Perbedaan ditemukan dalam beberapa perkara, seperti
penentuan akhir bulan ramadhan sehingga shalat akan dilakukan esok harinya, tempat
pelaksanaan shalat, dan tata cara khutbah hari raya idul fitri.
Lalu bagaimana sikap kita? Seperti halnya perbedaan yang terjadi dalam
berbagai peribadatan lainnya, sikap terbaik yang dianjurkan adalah mengikuti
kebiasaan yang berlaku umum di kalangan para jama’ah atau lingkungan sekitar
6. Shalat Hari Raya Idul Adha dan Tata Cara Pelaksanaanya
Ayo kita pahami! Shalat idul adha merupakan shalat hari raya yang dilaksanakan
pada setiap tanggal 10 Dzulhijah. Sedangkan waktu pelaksanaanya sejak mata hari terbit
hingga waktu shalat dhuhur. Namun disunnah pelaksanaan shalat lebih awal untuk
memberikan kesempatan lebih luas bagi umat Islam yang hendak berkurban.
Ayo kita bandingkan! Shalat hari raya idul adha pada dasarnya hampir sama
dengan pelaksanaan shalat idul fitri. Perbedaan hanya terletak pada tidak disunnahkannya
makan pagi sebelum berangkat ke masjid. Perbedaan lainnya, jika dalam shalat idul fitri
imam disunnahkan memberikan kesempatan kepada jama’ah untuk menyelesaikan
penyerahan zakat fitrah, tetapi waktu shalat idul adha lebih baik disegerakan.
7. Shalat Tahiyyatul Masjid dan Tata Cara Pelaksanaanya
Ayo kita cermati! Agama Islam menganjurkan umatnya agar selalu menjaga tata
krama pada saat memasuki masjid. Oleh karena itu, ketika memasuki masjid sangat
dianjurkan membaca doa, berada dalam keadaan suci, memakai pakaian bersih dan suci,
serta memperbanyak amal saleh dan berbagai macam ibadah di dalamnya. Salah satu
ibadah yang disunahkan ketika berada di dalam masjid adalah shalat sunah tahiyyatul
masjid.
Shalat tahiyatul masjid diartikan sebagai shalat untuk menghormati kesucian dan
keagungan masjid. Jumlah rakaat shalatnya adalah dua rakaat secara sendirian dan
dilaksanakan sebelum duduk sesampainya di masjid, meskipun dalam waktu yang sangat
singkat. Sedangkan niat shalatnya sebagai berikut:
Artinya:
“Aku berniat mengerjakan shalat tahiyyatul masjid sebanyak dua rakaat pada saat ini
hanya semata-mata karena Allah Swt. ”.
Namun jika dengan alasan tertentu tidak memungkinkan, maka dianjurkan
membaca:
Artinya:
“Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha
Besar, tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuasaan Allah yang Maha Tinggi dan
Maha Agung”.
8. Shalat Tarawih dan Tata Cara Pelaksanaannya
Kita pasti sering mendengar istilah shalat tarawih! Shalat tarawih merupakan
shalat sunnah khusus yang hanya dilaksanakan pada bulan ramadhah setelah shalat isya’
dan sebelum shalat witir. Shalat tarawih disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan yang
dilakukan secara berjama’ah. Tetapi juga dapat dilakukan secara sendirian. Dalam
pelaksanaannya disatukan dengan shalat witir. Sedangkan niat dalam pelaksanaan shalat
sebagai berikut:
Artinya:
“Aku berniat mengerjakan shalat tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya semata-mata karena Allah Swt.”
Jumlah rakaat shalat tarawih termasuk witirnya adalah 23 rakaat. Dari jumlah ini
sebanyak 20 rakaat merupakan bagian dari shalat tarawih dan tiga rakaat lainnya masuk
dalam lingkup shalat witir. Setiap dua kali rakaat diakhiri dengan salam, kecuali dalam
shalat witir pada rakaat yang terakhir hanya satu rakaat.
Lazimnya yang banyak kita dengarkan di masjid-masjid, pelaksanaan shalat
tarawih secara berjama’ah dipandu oleh bilal dan dipimpin oleh imam. Bilal memberi
tanda kepada jama’ah shalat dengan mengucapkan shalawat atau doa kepada
khulafa’urrasyidin (Abu Bakar Ra, Umar bin Khaththab Ra, Utsman bin Affan Ra, dan
Ali bin Abi Thalib Ra).
Bacaan bilal memiliki beberapa manfaat bagi para jama’ah. Bacaan sebagai
tanda waktu jeda antara satu salam dengan salam dalam rakaat berikutnya. Jeda waktu
dibutuhkan karena shalat tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat merupakan kegiatan
ibadah yang cukup menguras tenaga bagi para jama’ah yang tidak terbiasa. Jeda juga
dimaknai sebagai tanda bagi jama’ah untuk beristirahat sejenak. Hal ini selaras dengan
tarawih yang berarti istirahat, karena jumlah rakaat yang cukup banyak.
Ayo kita cermati dan praktekkan bacaan bilal dan jama’ah dalam shalat
tarawih berikut ini!
Bayu herlambang
ReplyDelete07
7d
Dimas Surya
ReplyDelete7F
9
Subqhi Rizqi Fernando
ReplyDelete7c
29
Taufiq Akbar Ramadhan
ReplyDelete7A
29
Septiana Romadhoni
ReplyDelete7f
26
Nama:Reva Surya Safitri
ReplyDeleteKelas:7B
No Absen:28.
Muhammad zakka af Ghani
ReplyDelete18
7D
Faris Aditiya Firmansyah
ReplyDelete7C
13
Faris Aditiya Firmansyah
ReplyDelete7C
13
NAMA:CHOIRUN NISSA ALMA AULIA
ReplyDeleteKELAS:7D
NOMOR:9
Faisal Ahnaf Hidayat
ReplyDelete7E
11
Nama:Muhammad Ihsan Yahya
ReplyDeletekelas:7D
No.absen:17
Fadli Yanto Romadhoni
ReplyDelete12
7F
Yogi
ReplyDelete7d
30
Suryani
ReplyDelete7f
29
angga bryan ramaddhan
ReplyDelete7D
4
Nama:Nurma Nur Hidayati
ReplyDeleteKelas:7F
No absen:20
Nama:Ahmad Nur Rifai
ReplyDeleteKelas:7f
No absen:3
Subqha Rizqi Fernanda
ReplyDelete7b
31
RAFI NUR FATONI
ReplyDelete7A
27
Nama:Ludfi nugroho
ReplyDeleteKelas:7f
No absen:17
Trianinda Murihana Dewi
ReplyDelete7F
30
Aulia Nur Rohmah
ReplyDelete7A
07
Dhanu Wahyu Saputro
ReplyDelete7f
07
Nama:Safira
ReplyDeleteKelas:7D
No absen:25
Agustian
ReplyDelete7e
4
lisa oktavia ramadhani
ReplyDelete7b
19