Tuesday, April 6, 2021

Fikih7 (7-4-21)

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Materi hari ini  sunah muakad dan ghairu muakad.

Silahkan kalian berdoa semoga selalu di beri kesehatan dan kemudahan.

Jangan lupa shalat yang tertib dan absen di bawah ini.

Klik : Absensi

MATERI BAB 9 

 

A. SHALAT SUNNAH MUAKKAD

1. Pengertian Shalat Sunnah Muakkad dan Pembagiannya

Tahukah kamu, apa yang dimaksud dengan sunnah mu’akkad? Sunnah mu’akkad

السنةلمؤكد) secara bahasa adalah sunnah yang dikuatkan atau sangat dianjurkan. Secara

istilah, sunnah mu’akkad merupakan ibadah-ibadah yang selalu dijalankan atau dilestarikan oleh Nabi Muhamamd Saw dan tidak ditinggalkan, kecuali sekali atau dua kali untuk memberi petunjuk bahwa ibadah tersebut tidak wajib hukumnya. Banyak sekali ibadah yang termasuk shalat sunnah mu’akkad, seperti shalat sunnah rawatib, shalat tahajjud, shalat witir, shalat dua hari raya, dan shalat tahiyyat masjis.

2. Shalat Rawatib dan Tata Cara Pelaksanaanya

Ayo kita cermati! Shalat rawatib merupakan shalat sunnah yang pelaksanaanya menyertai shalat fardlu lima waktu. Shalat rawatib disebut juga dengan sunnah qabliyah Bahkan shalat rawatib sangat dianjurkan karena dapat menyempurnakan kekurangankekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat fardlu lima waktu.

yang berarti dilaksanakan sebelum shalat fardlu dan sunnah ba’diyah yaitu shalat sunnah yang dilaksanakan setelah shalat fardlu. Termasuk dalam shalat rawatib yang mu’akkad adalah sepuluh rakaat rawatib, yaitu:

A. Dua rakaat sebelum shalat subuh.

Dilakukan dengan sendirian dengan tata cara seperti shalat fardlu dua rakaat. Niat shalat sebelum subuh adalah:

Artinya:

Aku berniat shalat sunnah sebelum shalat subuh dengan menghadap kiblat pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. .

Dianjurkan dalam rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlash. Juga disunnah memisah antara sunnah sebelum subuh dengan shalat subuh dengan berdzikir dan berdo’a atau perbuatan-perbuatan yang diperbolehkan lainnya.

B. Dua rakaat sebelum shalat dhuhur dan shalat Jumat.

Tata cara pelaksanaan shalat sebelum dhuhur dan shalat Jum’at adalah sama dengan sunnah sebelum subuh. Hanya saja surat yang dibaca setelah membaca Al-Fatihan tidak ditentukan.

Artinya:

Aku berniat shalat sunnah sebelum shalat dhuhur/Jumat dengan menghadap kiblat pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. .

C. Dua rakaat sesudah shalat dhuhur dan shalat Jumat.

Tata cara pelaksanaannya seperti shalat sunnah sebelum shalat dhuhur dan Jum’at, dengan niat sebagai berikut:

Artinya:

Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat dhuhur/Jumat dengan menghadap kiblat

pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. .

D. Dua rakaat sesudah shalat maghrib.

Tata cara pelaksanaan shalat sunnah sesudah shalat maghrib sama dengan sunnah sebelum shalat subuh. Termasuk bacaan surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash setelah membaca Al-Fatihah dalam sunnah sebelum shalat subuh juga dianjurkan dibaca dalam shalat sunnah setelah shalat maghrib. Niat shalat sunnah sesudah maghrib

adalah:

Artinya:

Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat maghrib dengan menghadap kiblat pada

saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. .

E. Dua rakaat sesudah shalat Isya.

Tata cara pelaksanaan shalat sunnah sebelum isya’ sama dengan shalat sunnah sebelum shalat dhuhur atau Jum’at.

Artinya:

Aku berniat shalat sunnah sesudah shalat Isya dengan menghadap kiblat pada saat ini dan semata-mata karena Allah Swt. .

3. Shalat Tahajjud dan Tata Cara Pelaksanaannya

Ayo kita cermati! Shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang dikerjakan setelah shalat Isya’ setelah terjaga dari tidur, meski tidurnya dalam waktu yang singkat. Waktu terbaik dilaksanakannya shalat tahajjud adalah sepertiga malam terakhir. Tidak ada batasan jumlah rakaat paling banyak dalam tahajjud, tetapi paling sedikitnya adalah satu rakaat seperti dalam shalat witir. Niat shalat tahajjud adalah:

Artinya:

Aku berniat shalat tahajjud dua rakaat hanya karena Allah Swt.

4. Shalat Witir dan Tata Cara Pelaksanannya

Apa yang kita pahami tentang shalat witir? Shalat witir merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari setelah shalat isya’ sampai terbitnya fajar atau waktu shalat subuh. Pelaksanaan shalat witir pada bulan ramadhan berbeda dengan hari-hari selain di bulan ramadhan. Apa yang kita temukan? Terdapat perbedaan pelaksanaan shalat witir pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan selainnya. Dalam bulan ramadhan, shalat witir biasanya dilaksanakan setelah shalat tarawih secara berjama’ah. Sedangkan jumlah rakaatnya

biasanya ada tiga dengan dua kali salam. Pada salam pertama, jumlah rakaat ada dua dengan niat shalat sebagai berikut:

Artinya:

Aku berniat shalat witir dengan dua rakaat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya

karena Allah Swt. .

Sedangkan pada salah kedua jumlah rakaat hanya satu dengan niat shalatnya

adalah:

Artinya:

Aku berniat shalat witir dengan satu rakaat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya

karena Allah Swt. .

Surah yang dibaca dalam rakaat pertama adalah Surah Al-A’la (87) dan rakaat keduanya membaca Surah Al-Kafirun (109). Sedangkan dalam rakaat kedua membaca tiga surah pendek, yaitu: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Sedangkan waktu pelaksanaan shalat witir di luar bulan ramadhan dapat disegerakan atau di akhirkan. Bagi orang yang khawatir sulit bangun malam dianjurkan menyegerakan dan bagi yang mudah terjaga dari tidurnya dianjurkan mengakhirkan di sepertiga malam. Ayo kita bandingkan! Jumlah rakaat dalam shalat witir selain bulan ramadhan adalah tidak terbatas, tetapi harus tetap ganjil dan dilakukan secara sendirian.

5. Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanannya

Pernahkah anda memutuskan berakhirnya puasa ramadhan setelah mendengar

keputusan Sidang Itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama? Shalat hari raya idul fitri

merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan setelah berakhirnya puasa ramadhan, tepat

pada tanggal satu syawal. Cara yang paling umum untuk menentukan akhir bulan

ramadhan adalah mengikuti keputusan Sidang Istbat yang dipimpin oleh Menteri Agama

dan dihadiri organisasi-organisasi keagamaan Islam di Indonesia.

Ayo kita pahami! Shalat hari raya memiliki tata cara pelaksanaan yang diatur

secara ketat. Meskipun hukum shalatnya itu sendiri adalah sunnah mu’akkad. Rangkaian

pelaksanaan shalat hari raya idul fitri hmpir sama dengan shalat Jum’at yang menyertakan

adanya dua khutbah sebagai bagian satu kesatuan.

Ayo kita cermati penjelasan berikut!

1 Mandi sunnah dengan niat untuk melaksanakan shalat hari raya idul fitri.

2 Memaki wewangian.

3 Memakai pakaian yang paling bagus.

4 Disunnahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri

5 Bagi imam disunnahkan mengundur sedikit pelaksanaan shalat idul fitri untuk

menyelesaikan zakat fitrah

6 Hendaknya berjalan kaki sambil bertakbir terus-menerus mulai berangkat dari

rumah hingga tiba di masjid.

7 Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dikerjakan sebelum khutbah

8 Tidak ada adzan dan iqamah dalam shalat Hari Raya. Imam shalat cukup

mengucapkan Asshalatu jamiah

9 Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada rakaat pertama diawali dengan takbiratul

ihram dan 7 kali takbir. Raka'at kedua membaca rakbir sebanyak lima waktu

(selain takbir saat berdiri)

10 Di antara dua takbir diperbolehkan membaca tasbih, tahmid dan shalawat secara

keseluruhan atau memilih salah satu dari ketiganya

11 Pada setiap takbir mengangkat kedua tangan

12 Bacaan surah setelah Al-Fatihah pertama adalah surat Qaf dan rakaat kedua

adalah surat Al-Qamar. Dapat pula membaca surah Al-A'la pada rakaat pertama

dan Al-Ghasiyah pada rakaat kedua

13 Disunnahkan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulangnya

14 Hendaknya semua umat Islam, laki-laki. perempuan, anak-anak, dewasa, maupun

orang tua keluar ke masjid untuk mendengarkan khutbah sebagai syiar Islam.

bagi wanita yang haid maka disediakan tempat husus diluar masjid untuk

mendengarkan khutbah.

Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya Idul Fitri, dan

memisahkan kedua khutbah dengan duduk. Pada khutbah pertama khatib

disunnahkan memulainya dengan takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada

khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali.

15 Apabila khatib lupa tidak bertakbir sebanyak 7 kali (setelah takbiratul ihram langsung membaca Fatihah) atau tidak bertakbir pada rakaat kedua sebanyak 5

kali, maka shalat tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi.

Tahukah kamu, tata cara pelaksanaan shalat hari raya idul fitri memiliki perbedaan

antar umat Islam di Indonesia. Perbedaan ditemukan dalam beberapa perkara, seperti

penentuan akhir bulan ramadhan sehingga shalat akan dilakukan esok harinya, tempat

pelaksanaan shalat, dan tata cara khutbah hari raya idul fitri.

Lalu bagaimana sikap kita? Seperti halnya perbedaan yang terjadi dalam

berbagai peribadatan lainnya, sikap terbaik yang dianjurkan adalah mengikuti

kebiasaan yang berlaku umum di kalangan para jama’ah atau lingkungan sekitar

6. Shalat Hari Raya Idul Adha dan Tata Cara Pelaksanaanya

Ayo kita pahami! Shalat idul adha merupakan shalat hari raya yang dilaksanakan

pada setiap tanggal 10 Dzulhijah. Sedangkan waktu pelaksanaanya sejak mata hari terbit

hingga waktu shalat dhuhur. Namun disunnah pelaksanaan shalat lebih awal untuk

memberikan kesempatan lebih luas bagi umat Islam yang hendak berkurban.

Ayo kita bandingkan! Shalat hari raya idul adha pada dasarnya hampir sama

dengan pelaksanaan shalat idul fitri. Perbedaan hanya terletak pada tidak disunnahkannya

makan pagi sebelum berangkat ke masjid. Perbedaan lainnya, jika dalam shalat idul fitri

imam disunnahkan memberikan kesempatan kepada jama’ah untuk menyelesaikan

penyerahan zakat fitrah, tetapi waktu shalat idul adha lebih baik disegerakan.

7. Shalat Tahiyyatul Masjid dan Tata Cara Pelaksanaanya

Ayo kita cermati! Agama Islam menganjurkan umatnya agar selalu menjaga tata

krama pada saat memasuki masjid. Oleh karena itu, ketika memasuki masjid sangat

dianjurkan membaca doa, berada dalam keadaan suci, memakai pakaian bersih dan suci,

serta memperbanyak amal saleh dan berbagai macam ibadah di dalamnya. Salah satu

ibadah yang disunahkan ketika berada di dalam masjid adalah shalat sunah tahiyyatul

masjid.

Shalat tahiyatul masjid diartikan sebagai shalat untuk menghormati kesucian dan

keagungan masjid. Jumlah rakaat shalatnya adalah dua rakaat secara sendirian dan

dilaksanakan sebelum duduk sesampainya di masjid, meskipun dalam waktu yang sangat

singkat. Sedangkan niat shalatnya sebagai berikut:

Artinya:

Aku berniat mengerjakan shalat tahiyyatul masjid sebanyak dua rakaat pada saat ini

hanya semata-mata karena Allah Swt. .

Namun jika dengan alasan tertentu tidak memungkinkan, maka dianjurkan

membaca:

Artinya:

Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha

Besar, tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuasaan Allah yang Maha Tinggi dan

Maha Agung.

8. Shalat Tarawih dan Tata Cara Pelaksanaannya

Kita pasti sering mendengar istilah shalat tarawih! Shalat tarawih merupakan

shalat sunnah khusus yang hanya dilaksanakan pada bulan ramadhah setelah shalat isya’

dan sebelum shalat witir. Shalat tarawih disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan yang

dilakukan secara berjama’ah. Tetapi juga dapat dilakukan secara sendirian. Dalam

pelaksanaannya disatukan dengan shalat witir. Sedangkan niat dalam pelaksanaan shalat

sebagai berikut:

Artinya:

Aku berniat mengerjakan shalat tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat pada saat ini sebagai imam/makmum hanya semata-mata karena Allah Swt.

Jumlah rakaat shalat tarawih termasuk witirnya adalah 23 rakaat. Dari jumlah ini

sebanyak 20 rakaat merupakan bagian dari shalat tarawih dan tiga rakaat lainnya masuk

dalam lingkup shalat witir. Setiap dua kali rakaat diakhiri dengan salam, kecuali dalam

shalat witir pada rakaat yang terakhir hanya satu rakaat.

Lazimnya yang banyak kita dengarkan di masjid-masjid, pelaksanaan shalat

tarawih secara berjama’ah dipandu oleh bilal dan dipimpin oleh imam. Bilal memberi

tanda kepada jama’ah shalat dengan mengucapkan shalawat atau doa kepada

khulafa’urrasyidin (Abu Bakar Ra, Umar bin Khaththab Ra, Utsman bin Affan Ra, dan

Ali bin Abi Thalib Ra).

Bacaan bilal memiliki beberapa manfaat bagi para jama’ah. Bacaan sebagai

tanda waktu jeda antara satu salam dengan salam dalam rakaat berikutnya. Jeda waktu

dibutuhkan karena shalat tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat merupakan kegiatan

ibadah yang cukup menguras tenaga bagi para jama’ah yang tidak terbiasa. Jeda juga

dimaknai sebagai tanda bagi jama’ah untuk beristirahat sejenak. Hal ini selaras dengan

tarawih yang berarti istirahat, karena jumlah rakaat yang cukup banyak.

Ayo kita cermati dan praktekkan bacaan bilal dan jamaah dalam shalat

tarawih berikut ini!

27 comments:

  1. Nama:Reva Surya Safitri
    Kelas:7B
    No Absen:28.

    ReplyDelete
  2. NAMA:CHOIRUN NISSA ALMA AULIA
    KELAS:7D
    NOMOR:9

    ReplyDelete
  3. Nama:Muhammad Ihsan Yahya
    kelas:7D
    No.absen:17

    ReplyDelete
  4. Nama:Nurma Nur Hidayati
    Kelas:7F
    No absen:20

    ReplyDelete
  5. Nama:Ahmad Nur Rifai
    Kelas:7f
    No absen:3

    ReplyDelete
  6. Nama:Ludfi nugroho
    Kelas:7f
    No absen:17

    ReplyDelete
  7. Nama:Safira
    Kelas:7D
    No absen:25

    ReplyDelete

SKI kelas 8 ABC (15/01/22)

Assalamu'alaikum Wr. Wb Salam sehat selalu dan tetap semangat untuk belajar, sebelum dimulai mari awali dengan berdoa. Materi hari ini t...