Friday, January 7, 2022

SKI 8 (ABC) Bab 4 (8/01/22)

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Bejumpa lagi dengan pelajaran SKI semoga anak-anakku semangat dan semoga sehat!

Untuk materi kali ini Bab 4 tentang penguasa dinasti ayyubiyah, silahkan baca, fahami dan ringkas.

Link daftar hadir : Absen SKI 8 (8/01/22)

Materinya:

Bab 4

PEMIMPIN BESAR DAN ILMUWAN ISLAM

MASA DAULAH AYYUBIYAH

A. PEMIMPIN BESAR DAULAH AYYUBIYAH

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat memperhatikan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Ia begitu giat mendorong studi keagamaan, membangun bendungan, menggali terusan, serta mendirikan dan masjid. Setelah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi meninggal dunia, daerah kekuasaannya yang begitu luas terbentang mulai dari sungai Tigris hingga sungai Nil. Dinasti Ayyubiyah selama lebih kurang 79 tahun Daulah Al-Ayyubiyah berkuasa, terdapat 9 orang penguasa yakni sebagai berikut :

1. Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (564-589 H/ 1171-1193 M)

2. Sultan Al-Aziz Imaduddin (589-596 H/1193-1198 M)

3. Sultan Al-Mansur Nasiruddin (595-596 H/ (1198-1200 M)

4. Sultan Al-Adil Saifuddin (596-615 H/1200-1218 M)

5. Sultan Al-Kamil Muhammad (615-635 H/ 1218-1238 M)

6. Sultan Al-Adil Saifuddin (635-637 H/ 1238-1240 M)

7. Sultan As-Saleh Najmuddin (637-647 H/ 1240-1249 M)

8. Sultan al-Mu’azzam Turansyah (647 H/ 1249-1250 M)

9. Sultan al-Asyraf Muzaffaruddin (647-650 H/ 1250-1252 M)

Diantara 9 (sembilan) penguasa tersebut terdapat beberapa penguasa yang terkenal, yaitu : Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (1171-1193 M), Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M), dan Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M).

a. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (564-589 H/ 1171-1193 M)

 Biografi

Nama lengkapnya, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi Abdul Muzaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub. Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi. Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa benteng Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat

Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Pendidikan masa kecilnya, Shalahuddin dididik ayahnya untuk menguasai

sastra, ilmu kalam, menghafal Al Quran dan ilmu hadits di madrasah. Dalam buku-buku sejarah dituturkan bahwa cita-cita awal Shalahuddin ialah menjadi orang yang ahli di bidang ilmu-ilmu agama Islam (ulama). Ia senang Selain mempelajari ilmu-ilmu agama, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Dari kecil sudah terlihat karakter kuat Salahudin yang rendah hati, santun serta penuh belas kasih. Salahudin tumbuh di lingkungan keluarga agamis dan dalam lingkungan keluarga ksatria. Dunia kemiliteran semakin diakrabinya setelah Sultan Nuruddin menempatkan ayahnya sebagai kepala divisi milisi di Damaskus dan pada umur 26 tahun, Shalahuddin bergabung dengan pasukan pamannya (Asaduddin Syirkuh), dalam memimpin pasukan muslimin ke Mesir atas tugas dari gubernur Suriah (Nuruddin Zangi), untuk membantu perdana menteri

Daulah Fathimiyah (Perdanana Menteri Syawar) menghadapi pemberontak dan penyerbuan tentara salib. Misi tersebut berhasil Perdana menteri Syawar kembali kepada kedudukannya semula tahun 560 H/1164 M.

Shalahuddin semakin menunjukkan kepiawaiannya dalam kepemimpinan. Ia mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir, terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Tiga tahun kemudian, ia menjadi penguasa Mesir dan Syria dan merevitalisasi ekonomi, reorganisasi militer, dan menaklukan Negara-negara muslim kecil untuk dipersatukan melawan pasukan salib. Impian bersatunya bangsa muslim tercapai setelah pada September 1174 M, Shalahuddin berhasil menundukkan Daulah Fatimiyah di Mesir untuk patuh pada kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Daulah Ayyubiyah yang

bermadzhab Sunni akhirnya berdiri di Mesir menggantikan Daulah Fathimiyah yang berkuasa sebelumnya dan bermazhab syi’ah. Pada usia 45 tahun, Shalahuddin telah menjadi orang paling berpengaruh di dunia Islam. Selama kurun waktu 12 tahun, ia berhasil mempersatukan Mesopotamia, Mesir, Libya, Tunisia, wilayah barat jazirah Arab dan Yaman di

bawah kekhalifahan Ayyubiyah. Kota Damaskus di Syria menjadi pusat pemerintahannya. Shalahuddin wafat di Damaskus pada tahun 1193 M dalam usia 57 tahun.

Kepemimpinan

Selain itu Shalahuddin merupakan salah seorang Sultan yang memiliki kemampuan memimpin, dibuktikan dengan caranya dalam memilih para Wazir. Shalahuddin mengangkat para pembantunya (Wazir) orang-orang

cerdas dan terdidik diantaranya, Al-Qadhi Al-Fadhil dan Al-Katib Al-Isfahani. Sementara itu sekretaris pribadinya bernama Bahruddin bin Syadad, yang kemudian dikenal sebagai penulis biografinya. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi juga tidak membuat kekuasaan terpusat di Mesir. membagi wilayah kekuasaannya kepada saudara-saudara dan keturunannya, sehingga melahirkan beberapa cabang dinasti Ayyubiyah sebagai berikut:

1. Kesultanan Ayyubiyah di Mesir

2. Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus

3. Kesultana Ayyubiyah di Aleppo

4. Kesultanan Ayyubiyah di Hamah

5. Kesultanan Ayyubiyah di Homs

6. Kesultanan Ayyubiyah di Mayyafaiqin

7. Kesultanan Ayyubiyah di Sinjar

8. Kesultanan Ayyubiyah di Hisn Kayfa

9. Kesultanan Ayyubiyah di Yaman

10. Kesultana Ayyubiyah di Kerak

Dalam kegiatan perekonomian, ia bekerja sama dengan penguasa muslim di wilayah lain dan menggalakan perdaganggan dengan kota-kota di laut tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistem perpajakan.

Selain itu, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi dianggap sebagai pembaharu di Mesir karena dapat mengembalikan mazhab sunni. Untuk keberhasilannya, Khalifah al-Mustadi dari Bani Abbasiyah memberi gelar Al-Mu’izz li Amiiril mu’miniin (penguasa yang mulia). Khalifah Al-Mustadi juga memberikan Mesir, Naubah, Yaman, Tripoli, Suriah dan Maghrib sebagai wilayah kekuasaan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi pada tahun 1175 M. sejak saat itulah Shalahuddin dianggap sebagai Sultanul Islam Wal Muslimiin (Pemimpin umat Islam dan kaum muslimin).

 


36 comments:

  1. Ardian Putra Rizky Haryanto
    8C
    6

    ReplyDelete
  2. 𝗗𝗔𝗙𝗙𝗔 𝗡𝗔𝗞𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗡𝗔𝗥𝗞𝗢
    8c
    11

    ReplyDelete
  3. Muhammad Abdillah Ridwan Gani
    24
    8c

    ReplyDelete
  4. Siti Muwamanah
    8A
    27

    ReplyDelete

SKI kelas 8 ABC (15/01/22)

Assalamu'alaikum Wr. Wb Salam sehat selalu dan tetap semangat untuk belajar, sebelum dimulai mari awali dengan berdoa. Materi hari ini t...