Assalamu'alaikum Wr. Wb
Bejumpa lagi dengan pelajaran SKI semoga anak-anakku semangat dan semoga sehat!
Untuk materi kali ini Bab 4 tentang penguasa dinasti ayyubiyah, silahkan baca, fahami dan ringkas.
Link daftar hadir :
Absen SKI 8 (8/01/22)Materinya:
Bab 4
PEMIMPIN BESAR DAN ILMUWAN ISLAM
MASA DAULAH AYYUBIYAH
A. PEMIMPIN BESAR DAULAH AYYUBIYAH
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dikenal sebagai seorang pemimpin yang
sangat memperhatikan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Ia begitu
giat mendorong studi keagamaan, membangun bendungan, menggali terusan, serta mendirikan
dan masjid. Setelah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi meninggal dunia, daerah kekuasaannya
yang begitu luas terbentang mulai dari sungai Tigris hingga sungai Nil. Dinasti
Ayyubiyah selama lebih kurang 79 tahun Daulah Al-Ayyubiyah berkuasa, terdapat 9
orang penguasa yakni sebagai berikut :
1. Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (564-589 H/ 1171-1193 M)
2. Sultan Al-Aziz Imaduddin (589-596 H/1193-1198 M)
3. Sultan Al-Mansur Nasiruddin (595-596 H/ (1198-1200 M)
4. Sultan Al-Adil Saifuddin (596-615 H/1200-1218 M)
5. Sultan Al-Kamil Muhammad (615-635 H/ 1218-1238 M)
6. Sultan Al-Adil Saifuddin (635-637 H/ 1238-1240 M)
7. Sultan As-Saleh Najmuddin (637-647 H/ 1240-1249 M)
8. Sultan al-Mu’azzam Turansyah (647 H/ 1249-1250 M)
9. Sultan al-Asyraf Muzaffaruddin (647-650 H/ 1250-1252 M)
Diantara 9 (sembilan) penguasa tersebut terdapat beberapa penguasa
yang terkenal, yaitu : Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi (1171-1193 M),
Malik Al-Adil Saifuddin, pemerintahan I (1200-1218 M), dan Malik Al-Kamil
Muhammad (1218-1238 M).
a. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (564-589 H/ 1171-1193 M)
Biografi
Nama lengkapnya, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi Abdul Muzaffar Yusuf bin
Najmuddin bin Ayyub. Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi. Ayahnya
Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi)
meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit
(Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika
ayahnya menjadi penguasa benteng Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun
pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul,
Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534
H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek
dan menjadi pembantu dekat
Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Pendidikan masa kecilnya, Shalahuddin
dididik ayahnya untuk menguasai
sastra, ilmu kalam, menghafal Al Quran dan ilmu hadits di madrasah.
Dalam buku-buku sejarah dituturkan bahwa cita-cita awal Shalahuddin ialah
menjadi orang yang ahli di bidang ilmu-ilmu agama Islam (ulama). Ia senang Selain
mempelajari ilmu-ilmu agama, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni
teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan
pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun,
dalam lingkungan istana Nuruddin. Dari kecil sudah terlihat karakter kuat Salahudin
yang rendah hati, santun serta penuh belas kasih. Salahudin tumbuh di
lingkungan keluarga agamis dan dalam lingkungan keluarga ksatria. Dunia
kemiliteran semakin diakrabinya setelah Sultan Nuruddin menempatkan ayahnya
sebagai kepala divisi milisi di Damaskus dan pada umur 26 tahun, Shalahuddin
bergabung dengan pasukan pamannya (Asaduddin Syirkuh), dalam memimpin pasukan
muslimin ke Mesir atas tugas dari gubernur Suriah (Nuruddin Zangi), untuk
membantu perdana menteri
Daulah Fathimiyah (Perdanana Menteri Syawar) menghadapi pemberontak
dan penyerbuan tentara salib. Misi tersebut berhasil Perdana menteri Syawar kembali
kepada kedudukannya semula tahun 560 H/1164 M.
Shalahuddin semakin menunjukkan kepiawaiannya dalam kepemimpinan. Ia
mampu melakukan mobilisasi dan reorganisasi pasukan dan perekonomian di Mesir,
terutama untuk menghadapi kemungkinan serbuan balatentara Salib. Tiga tahun
kemudian, ia menjadi penguasa Mesir dan Syria dan merevitalisasi ekonomi,
reorganisasi militer, dan menaklukan Negara-negara muslim kecil untuk
dipersatukan melawan pasukan salib. Impian bersatunya bangsa muslim tercapai
setelah pada September 1174 M, Shalahuddin berhasil menundukkan Daulah
Fatimiyah di Mesir untuk patuh pada kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Daulah
Ayyubiyah yang
bermadzhab Sunni akhirnya berdiri di Mesir menggantikan Daulah
Fathimiyah yang berkuasa sebelumnya dan bermazhab syi’ah. Pada usia 45 tahun,
Shalahuddin telah menjadi orang paling berpengaruh di dunia Islam. Selama kurun
waktu 12 tahun, ia berhasil mempersatukan Mesopotamia, Mesir, Libya, Tunisia,
wilayah barat jazirah Arab dan Yaman di
bawah kekhalifahan Ayyubiyah. Kota Damaskus di Syria menjadi pusat
pemerintahannya. Shalahuddin wafat di Damaskus pada tahun 1193 M dalam usia 57
tahun.
Kepemimpinan
Selain itu Shalahuddin merupakan salah seorang Sultan yang memiliki
kemampuan memimpin, dibuktikan dengan caranya dalam memilih para Wazir.
Shalahuddin mengangkat para pembantunya (Wazir) orang-orang
cerdas dan terdidik diantaranya, Al-Qadhi Al-Fadhil dan Al-Katib
Al-Isfahani. Sementara itu sekretaris pribadinya bernama Bahruddin bin Syadad,
yang kemudian dikenal sebagai penulis biografinya. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi
juga tidak membuat kekuasaan terpusat di Mesir. membagi wilayah kekuasaannya
kepada saudara-saudara dan keturunannya, sehingga melahirkan beberapa cabang
dinasti Ayyubiyah sebagai berikut:
1. Kesultanan Ayyubiyah di Mesir
2. Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus
3. Kesultana Ayyubiyah di Aleppo
4. Kesultanan Ayyubiyah di Hamah
5. Kesultanan Ayyubiyah di Homs
6. Kesultanan Ayyubiyah di Mayyafaiqin
7. Kesultanan Ayyubiyah di Sinjar
8. Kesultanan Ayyubiyah di Hisn Kayfa
9. Kesultanan Ayyubiyah di Yaman
10. Kesultana Ayyubiyah di Kerak
Dalam kegiatan perekonomian, ia bekerja sama dengan penguasa muslim
di wilayah lain dan menggalakan perdaganggan dengan kota-kota di laut tengah,
lautan Hindia dan menyempurnakan sistem perpajakan.
Selain itu, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi dianggap sebagai pembaharu
di Mesir karena dapat mengembalikan mazhab sunni. Untuk keberhasilannya, Khalifah
al-Mustadi dari Bani Abbasiyah memberi gelar Al-Mu’izz li Amiiril mu’miniin
(penguasa yang mulia). Khalifah Al-Mustadi juga memberikan Mesir, Naubah,
Yaman, Tripoli, Suriah dan Maghrib sebagai wilayah kekuasaan Shalahuddin Yusuf
Al-Ayyubi pada tahun 1175 M. sejak saat itulah Shalahuddin dianggap sebagai Sultanul
Islam Wal Muslimiin (Pemimpin umat Islam dan kaum muslimin).