Assalamu'alaikum Wr. Wb
Untuk materi pertemuan ke-2 ini masih pemimpin besar dan ilmuan islam dinasti Ayyubiyah
Silahkan kalian baca dan fahami materi tersebut dan kerjakan soal latihan, sebelum di mulai silahkan berdoa dahulu! Soal latihan ada di bawah
Materi :
Keperwiraan
Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi, dikenal sebagai perwira yang memiliki kecerdasan
tinggi dalam bidang militer. Pada masa pemerintahannya kekuatan militernya
terkenal sangat tangguh, diperkuat oleh pasukan Barbar Turki, dan Afrika. Ia
membangun tembok kota di Kairo dan bukit muqattam sebagai benteng
pertahanan. Salah satu karya monumental yang disumbangkannya selama beliau
menjabat sebagai Sultan adalah bangunan sebuah benteng pertahanan yang diberi
nama Qal’atul Jabal yang dibangun di Kairo pada tahun 1183 M. Kehidupan
Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi penuh dengan perjuangan dalam rangka menunaikan
tugas negara dan agama. Perang yang dilakukannya dalam rangka membela negara
dan agama. Shalahuddin seorang kesatria dan memiliki toleransi yang tinggi.
Ketika menguasai Iskandariyah, tetap mengunjungi orang-orang Kristen
Ketika perdamaian tercapai dengan tentara salib, ia mengijinkan
orangorang kristen berziarah ke Baitul Makdis.
Sebagai penguasa pertama Daulah Ayyubiyah, Shalahuddin Yusuf Al- Ayyubi
berusaha untuk menyatukan propinsi-propinsi Arab terutama di Mesir dan Syam
pada satu daulah kekuasaan. Usaha Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi ini banyak
mendapat tantangan dari orang-orang yang kedudukannya merasa terancam dengan
kepemimpinannya. Maka usaha-usaha yang dilakukan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi pertama
kali adalah menumpas segala bentuk pemberontakan dan memperluas wilayah kekuasaannya
dengan tujuan agar kekuatan umat Islam terorganisir dengan baik dan mampu
menangkal musuh. Usaha-usaha tersebut adalah:
a. Memadamkan pemberontakan Hajib, kepala rumah tangga Khalifah Al-
Adhid, sekaligus perluasan wilayah Mesir sampai selatan Nubiah (568
H/1173 M)
b. Perluasan
wilayah Al-Ayyubiyah ke Yaman (569 H/1173 M)
c. Perluasan wilayah Al-Ayyubi ke Damaskus dan Mosul (570 H/1175
M).
Tujuan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi menyatukan Mesir, Suriah, Nubah,
Yaman, Tripoli, dan wilayah-wilayah yang lainnya di bawah komando Al- Ayyubiyah
adalah terjadinya koalisi umat Islam yang kuat dalam melawan
gempuran-gempuran tentara salib. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Shalahuddin
Yusuf Al-Ayyubi tersebut menuai hasil yang gemilang. Perang Salib yang terjadi
pada masa Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah Perang Salib periode kedua yang
berlangsung sekitar tahun1144-1192 M. Periode ini disebut periode reaksi umat
Islam, terutama bertujuan membebaskan kembali Baitul Maqdis (Al-Aqsha). Berikut
peperangan terpenting yang telah dilalui oleh Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi:
a. Pertempuran Shafuriyah (583 H/1187 M)
b. Pertempuran Hittin ( Bulan Juli 583 H/1187 M)
c. Pembebasan Al-Quds/Baitul Maqdis (27 Rajab 583 H/1187 M).
Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah pahlawan besar bagi umat Islam. Kecintaannya
terhadap agama dan umat Islam telah menempatkan sebagian lembaran hidupnya
untuk menegakkan harga diri umat Islam. Kehadiran
Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi dalam perang salib merupakan anugerah. Strategi
yang dikembangkan oleh Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi dalam membangun koalisi umat
Islam benar-benar telah menyatukan kekuatan umat Islam dalam membela agamanya.
Keperwiraan Shalahuddin terukir dalam sejarah, tidak hanya diakui oleh kaum
muslimin tetapi juga oleh kaum Kristen.
b. Sultan Al-Adil Saifuddin (596-615 H /1200-1218 M)
Sering dipanggil Al-Adil, nama lengkapnya Al-Malik Al-Adil
Saifuddin Abu Bakar bin Ayyub, menjadi penguasa ke 4 Dinasti Ayyubiah yang
memerintah pada tahun 596-615 H/1200-1218 M berkedudukan di Damaskus. Beliau
putra Najmuddin Ayyub yang merupakan saudara muda Shalahuddin Yusuf Al- Ayyubi,
dia menjadi Sultan menggantikan Al-Afdal yang gugur dalam peperangan. Al-Adil
merupakan seorang pemimpin pemerintahan dan pengatur strategi Prestasi Al Malik
Al-Adil antara lain :
1. Antara tahun 1168 – 1169 M mengikuti pamannya (Syirkuh)
ekspedisi militer ke Mesir
2. Tahun 1174 M, menguasai Mesir atas nama Shalahuddin Yusuf
Al-Ayyubi,
sedangkan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi mengembangkan pemerintahan di
Damaskus
3. Tahun 1169 M, dapat memadamkan pemberontakan orang-orang Kristen
Koptik di Qift-Mesir
4. Pada tahun 1186-1195 M, kembali ke Mesir untuk memerangi pasukan
Salib
5. Pada tahun 1192-1193 M, menjadi gubernur di wilayah utara Mesir
6. Pada tahun 1193 M, menghadapai pemberontakan Izzuddin di Mosul
7. Menjadi gubernur Syiria di Damaskus
8. Menjadi Sultan di Damaskus
c. Sultan Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M)
Nama lengkap Al-Kamil, adalah Al-Malik Al-Kamil Nasruddin Abu
Al-Maali Muhammad. Al-Kamil adalah putra dari Al-Adil. Pada tahun 1218 Al-Kamil
memimpin pertahanan menghadapi pasukan salib yang mengepung kota Dimyat
(Damietta) dan kemudian menjadi Sultan setelah ayahnya wafat. Pada tahun 1219,
hampir kehilangan tahta karena konspirasi kaum Kristen koptik. Al-Kamil
kemudian pergi ke Yaman untuk menghindari konspirasi itu, dan konspirasi itu
berhasil dipadamkan oleh saudaranya bernama Al-Mu’azzam yang menjabat sebagai
Gubernur Suriah. Pada bulan Februari tahun 1229 M, Al-Kamil menyepakati
perdamaian selama 10 tahun dengan Frederick II, yang berisi antara lain:
Ia mengembalikan Yerusalem dan kota-kota suci lainnya kepada
pasukan salib
Kaum muslimin dan Yahudi dilarang memasuki kota itu kecuali di
sekitar Masjidil Aqsa dan Majid Umar.
Selain itu beberapa peristiwa yang dialami Al-Malik Al-Kamil,
antara lain:
1. Pada tahun 1218 M, memimpin pertahanan menghadapi pasukan Salib
yang mengepung kota Dimyat (Damietta)
2. Menjadi
Sultan Dinasti Ayyubiyah pada tahun 1218 M, menggantikan Al-Adil yang meninggal
3. Pada tahun 1219 M, ia hampir kehilangan tahtanya.
4. Pada tahun 1219 M, kota Dimyat akhirnya jatuh ke tangan
orang-orang Kristen
5. Al-Kamil telah beberapa kali menawarkan perdamaian dengan pasukan
Salib yaitu dilakukan perjanjian damai dengan imbalan :Mengembalikan Yerussalem
kepada pasukan Salib.
6. Membangun kembali tembok di Yerussalem yang dirobohkan oleh
Al-Mu’azzam saudaranya.
7. Mengembalikan salib asli yang dulu terpasang di Kubah batu
Baitul Maqdis kepada orang Kristen.
Al-Kamil meninggal dunia pada tahun 1238 M. Kedudukannya sebagai
Sultan digantikan oleh Salih Al-Ayyubi.
B. Sumbangsih Besar Ilmuan Muslim Daulah Ayyubiyah
1. As-Suhrawardi al-Maqtul (Ilmuan Teosofis)
Nama lengkapnya Abu Al-Futuh Yahya bin Habash bin Amirak Shihab
al-Din as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H/ 1153 M di Suhraward,
sebuah kampung di kawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan. Ia memiliki
banyak gelar diantaranya, Shaikh al-Ishraq, Master of Illuminationist,
al-Hakim, ash-Shahid, the
Martyr, dan al-Maqtul.
Suhrawardi melakukan banyak perjalanan untuk menuntut ilmu. Ia pergi ke Maragha,
di kawasan Azerbaijan. Di kota ini, Suhrawardi belajar filsafat, hukum dan teologi
kepada Majd Al-Din Al-Jili. Juga memperdalam filsafat kepada Fakhr al- Din
al-Mardini. Selanjutnya ke Isfahan, Iran Tengah dan belajar logika kepada Zahir
Al-Din Al-Qari. Juga mempelajari logika dari buku al-Basa’ir
al-Nasiriyyah karya
Umar ibn Sahlan Al-Sawi. Dari Isfahan dilanjutkan ke Anatolia
Tenggara dan diterima dengan baik oleh pangeran Bani Saljuq. Setelah itu
pengembaraan Suhrawardi berlanjut ke Persia, pusat lahirnya tokoh-tokoh sufi.
Di sini Suhrawardi tertarik seorang sufi sekaligus filosof.
Ajaran Tarekat Suhrawardi
Dalam kitab Awarif al-Ma’arif dibahas tentang latihan rohani
praktis, terdiri
dari:
a. Ma’rifah, yaitu mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah,
bahwa Allah saja-lah Wujud Hakiki dan Pelaku Mutlak.
b. Faqr, yaitu tidak memiliki harta; seorang penempuh jalan
hakikat tidak akan sampai ke tujuan, kecuali jila
sudah melewati tahap ke-zuhud-an.
c. Tawakkal, yaitu mempercayakan segala urusan kepada Pelaku
Mutlak (Allah).
d. Mahabbah, artinya Cinta kepada Allah.
e. Fana’ dan Baqa’; Fana’ artinya akhir dari perjalanan
menuju Allah, sementara Baqa’ artinya awal dari perjalanan dalam Allah.
As-Suhrawardi mendapatkan gelar “Al-Maqtul” yang artinya
terbunuh, karena mendapatkan fitnah dari sebagian orang yang menuduhnya telah
mengajarkan aqidah yang sesat dan akhirnya dihukum mati oleh pengeran Az-Zahir,
putra Sultan Salahuddin Al-Ayyubi atas desakan dari beberapa pihak.
#Pemikiran Teosofis Suhrawardi
Pemikiran teosofi Suhrawardi disebut konsep cahaya (iluminasi,
ishraqiyyah) yang lahir sebagai perpaduan antara rasio dan intuisi. Istilah
ishraqi sendiri sebagai simbol geografis mengandung makna timur sebagai
dunia cahaya. Proses iluminasi cahaya-cahaya Suhrawardi dapat diilustrasikan
sebagai berikut: dimulai dari Nur al-Anwar yang merupakan sumber dari segala
cahaya yang ada. Ia Maha Sempurna, Mandiri, Esa, sehingga tidak ada satupun
yang menyerupai-Nya. Ia adalah Allah. Nur Al-Anwar ini hanya memancarkan
sebuah cahaya yang disebut Nur Al-Aqrab. Selain Nur Al-Aqrab tidak ada
lainnya yang muncul bersamaan dengan cahaya terdekat. Dari Nur Al-Aqrab (cahaya
pertama) muncul cahaya kedua, dari cahaya kedua muncul cahaya ketiga, dari
cahaya ketiga timbul cahaya keempat, dari cahaya keempat timbul cahaya kelima,
dari cahaya kelima timbul
cahaya keenam, begitu seterusnya hingga mencapai cahaya yang
jumlahnya sangat banyak. Pada setiap tingkat penyinaran setiap cahaya menerima
pancaran langsung dari Nur Al-Anwar, dan tiap-tiap cahaya dominator
meneruskan cahayanya ke masingmasing cahaya yang berada di bawahnya, sehingga
setiap cahaya yang berada di bawah selalu menerima pancaran dari Nur
Al-Anwar secara langsung dan pancaran dari semua cahaya yang berada di
atasnya sejumlah pancaran yang dimiliki oleh cahaya tersebut. Dengan demikian,
semakin bertambah ke bawah tingkat suatu cahaya maka semakin banyak pula ia
menerima pancaran. Karya-karya Suhrawardi diantaranya: kitab At-Talwihat
al-Lauhiyyat al-‘Arshiyyat, Al-Muqawamat, dan Hikmah al-‘Ishraq yang
membahas aliran paripatetik; Al-Lamahat, Hayakil al-Nur, dan Risalah fi
al-‘Ishraq yang membahas filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa
yang mudah dipahami; Qissah al-Ghurbah al Gharbiyyah, Al-‘Aql al-Ahmar, dan
Yauman ma’a Jama’at al-Sufiyyin’ ulasan penjelasan sufistik menggunakan
lambang yang
sulit dipahami dan, Risalah al-Tair dan Risalah fi al-‘Ishq terjemahan
dari filsafat klasik, dan Al-Waridat wa al-Taqdisat berisi serangkaian
do’a, dan lainlain.
2. Ibn Al-Adhim, Sejarawan Masyhur (588-660 H/ 1192- 1262 M)
Nama lengkapnya, Kamaluddin Abu al Qosim Umar bin Ahmad bin Haibatullah
bin Abi Jaradah Al Aqil, berasal dari bani Jaradah yang bermigrasi dari Bashrah
ke Allepo karena wabah penyakit. Al-Adhim lahir di Allepo, ayahnya menjadi
Qadhi Madzhab Hanafi di kota itu. Sejak tahun 616H/1219M, mulai mengajar di
Allepo, setelah mendalami berbagai pengetahuan di Allepo, Baitul Maqdis,
Damaskus, Hijaz dan Irak.
Kemudian menjadi Qadhi di Allepo pada zaman Amir Al- Aziz dan
Al-Nashir dari dinasti Ayubiyah di Allepo, dan menjadi dubes kedua penguasa ini
di Baghdad dan Kairo. Karya-karya Al-Adhim diantaranya, Zubdah al hallab min
tarikh Hallaba, Bughyah at Thalib fi Tharikh Halaba, tentang sejarah
Allepo / Halaba yang
disusun secara alfabetik terdiri dari 40 juz atau 10 jilid. Al-Adhim,
melarikan diri ke Kairo hingga wafat, ketika tentara Mongol menguasai halaba/
Allepo pada tahun 658 H / 1160 M.
3. Al-Bushiri, Sastrawan Penulis Qasidah
Burdah
Nama lengkapnya Sarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah as Shanhaji
al Bushiri, lahir pada tahun 1212 M di Maroko. Al-Bushiri seorang sufi besar, pengikut
Thariqat Syadziliyah, dan menjadi salah satu murid Sulthonul Auliya
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily, r.a. Gurunya yang lain beberapa ulama tasawuf
seperti
Abu Hayyan, Abu Fath bin Ya’mari dan Al ‘Iz bin Jama’ah al Kanani
Al Hamawi. Sejak masa kanak-kanak, dididik olek ayahnya sendiri dalam
mempelajati Al-Qur’an untuk memperdalam ilmu agama dan kesusastraan Arab. Al-Bushiri
dikenal sebagai orang yang wara’ (takut dosa). Pernah suatu ketika ia
akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir, akan tetapi melihat
perilaku pegawai kerajaan membuatnya menolak.
Al-Bushiri lebih menonjol dalam bidang sasra dengan hasil karyanya
yang terkenal yaitu Kasidah Burdah yang diciptakannya pada abad 7 Hijrah
dan dibaca dalam berbagai acara. Kasidah Burdah adalah mutiara syair kecintaan
kepada Rasulullah. Puisi Pujian Al-Bushiri kepada Nabi tidak terbatas pada
sifat dan kualitas pribadi Nabi, tetapi mengungkap kelebihan Nabi yang utama
yaitu mukjizat Al-Quran. Beberapa ulama sufi yang menjadi guru Al-Bushiri,
diantaranya, terutama pada bidang Imam Abu Hayyan, Abul Fath bin Sayyidunnas
Al-Ya’mari Al Asybali Al Misri pengarang kitab ‘Uyunul Atsar fi Sirah
Sayyidil Basyar, Al ‘Iz bin Jama’ah Al Kanani Al Hamawi salah
seorang hakim di Mesir, dan masih banyak lagi kalangan ulama besar Mesir yang
memberikan ilmu pengetahuannya kepada Al-Bushiri. Al Bushiri sebenamya tak
hanya, terkenal dengan karya Burdahnya saja. La juga dikenal sebagai seorang
ahli fikih, ilmu kalam dan ahli tasawuf.
4. Abdul Latief Al Baghdadi, Ahli Ilmu Mantiq (Logika)
Seorang ulama berpengaruh yang menginspirasi ulama-ulama Al-Azhar lainnya,
ahli ilmu mantiq, bayan, Hadist, fiqh, ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu lainya,
sekaligus sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan dan penyebaran madzhab
Sunni di Mesir.
5. Abu Abdullah Al Quda’i, Ahli Ilmu Fiqih
Ahli fiqih, hadis dan sejarah, beberapa karyanya adalah Asy
Syihab (Bintang), Sanadus Sihah (Perawi Hadis-Hadis Sahih), Manaqib
al Imam Asy Syafi’i (Budi Pekerti Imam Syafi’i), Anba’ Al Anbiya’ (Cerita
Para Nabi), ‘Uyun al Ma‘arif (Mata Air Ilmu Pengetahuan), Al Mukhtar
fiz Zikir al Khutat wa Al Asar (Buku Sejarah Mesir).
6. Para ilmuan muslim lainnya seperti :
Abu
Abdullah Muhammad Al-Idrisi, seorang ahli geografi dan juga ahli botani
yang mencatat penelitiannya dalam buku Kitab Al-Jami’ li Asytat an- Nabat
(Kitab kumpulan dan Tanaman). Ad-Dawudi, seorang ahli botani, pengarang
kitab Nuzhah an-Nufus wa al- Afkar Ma’rifah wa al-Ahjar wa al-Asyjar (kitab
komprehensif tentang Identifikasi Tanaman, Bebatuan, dan Pepohonan). Syamsuddin
Khalikan, seorang ahli sejarah yang mengarang kitab wafiyyat al-‘Ayan. Abul
Qosim al-Manfaluti, sosok ulama yang ahli dalam bidang ilmu fiqih. Al
Hufi, ilmuan ahli tata bahasa Arab. Abu Abdullah Muhammad bin
Barakat, ulama ahli nahwu (gramatika bahasa Arab) dan ahli tafsir
Al-Qur’an.
Klik: Soal latihan