Assalamu'alaikum Wr. Wb
Silahkan kalian tulis dan pelajari kisi-kisi PAS dengan baik dan benar!
Sebelumnya mari berdoa bersama-sama....
Klik: KISI-KISI PAS SKI 8
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Silahkan kalian tulis dan pelajari kisi-kisi PAS dengan baik dan benar!
Sebelumnya mari berdoa bersama-sama....
Klik: KISI-KISI PAS SKI 8
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Ketemu lagi dengan saya....di pelajaran Fikih, mari kita berdoa mulai.....
Untuk kali ini saya akan membagikan kisi-kisi PAS mudah-mudahan bisa membantu belajar
Dan mendapat hasil yang terbaik, Aamiiin!
Klik: KISI-KISI PAS FIKIH 8
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Apa kabar hari ini semoga sehat ya....
Mari kita buka dengan membaca basmalah
Silahkan kalian lihat dan pelajari kisi-kisi Fikih kelas 7 ini supaya mudah di mengerti
Dan ketika Penilaian Akhir Semester kalian sudah bisa menjawab dengan benar!
Klik: KISI-KISI PAS FIKIH 7
Assalamu'alaikum
Apa kbr anak-anak, semoga sehat ya....
Materi kali ini kalian fahami dan catat jika kesulitan silahkan lihat di buku paket hal 74-75
3. Rukun I’tikaf
Tahukah kamu apa yang harus kita lakukan pada waktu melaksanakan i’tikaf? Pada
waktu kita beri’tikaf, ada dua rukun yang harus diperhatikan, yaitu:
1) Niat, yaitu menyengaja untuk beri’tikaf
Jumhur ulama di antaranya madzhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah
sepakat menetapkan bahwa niat adalah bagian dari rukun i’tikaf. Sedangkan madzhab
Al-Hanafiyah menempatkan niat sebagai syarat i’tikaf dan bukan sebagai rukun.
Fungsi dari niat ketika beri’tikaf ini antara lain:
Pertama untuk menegaskan spesifikasi ibadah i’tikaf dari sekedar duduk ngobrol di
dalam masjid. Orang yang sekedar duduk menghabiskan waktu di masjid, statusnya
berbeda dengan orang yang niatnya mau beri’tikaf. Meski keduanya sama-sama duduk untuk berbincang-bincang, namun yang satu mendapat pahala i’tikaf, yang satunya
tidak mendapat pahala i’tikaf.
Kedua, menegaskan hukum i’tikaf itu sendiri, apakah termasuk i’tikaf yang wajib
seperti karena sebelumnya sempat bernadzar, ataukah i’tikaf yang hukumnya Sunah.
2) Berdiam diri di masjid, sekurang-kurangnya selama tuma’ninah salat
3) Bertempat di masjid (mu’takaf fiih)
4) Orang yang beri’tikaf (mu’takif)
4. Syarat I’tikaf
Sebelum melaksanakan I’tikaf ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Tahukah
kamu apa syarat-syarat tersebut? Mari kita pelajari dengan sungguh-sungguh materi berikut!
1) Islam
Dengan disyaratkannya status beragama Islam, maka orang kafir atau orang yang tidak
beragama Islam tidak sah bila melaksanakan i’tikaf.
Walau pun syariat membolehkan orang yang bukan beragama Islam masuk ke dalam
masjid, namun tidak dibenarkan melaksanakan ibadah i’tikaf, kecuali setelah
menyatakan diri masuk Islam.
2) Baligh/Mumayyiz
Seorang anak yang belum baligh tetapi sudah mumayyiz, apabila melaksanakan ibadah
i’tikaf, hukumnya sah dan berpahala. Sebagaimana kalau anak yang belum baligh itu
menjalankan ibadah salat dan puasa, bila sudah mumayyiz, maka ibadahnya sah dan
berpahala baginya.
3) Berakal sehat
Ibadah I’tikaf membutuhkan niat dan menyengaja untuk melakukan. Orang yang tidak
punya kesadaran atas dirinya, tentu tidak bisa berniat untuk mengerjakan suatu ibadah,
termasuk i’tkaf. Maka secara otomatis orang gila yang tidak waras pemikirannya, tidak
sah bila melakukan i’tikaf.
4) Suci dari haid dan nifas
Wanita yang sedang mendapat darah haidh atau nifas tidak dibenarkan ikut beri’tikaf
di masjid.
Dasarnya bukan karena khawatir darahnya akan mengotori masjid. Sebab syariat Islam
membolehkan wanita yang sedang mengalami istihadhah untuk masuk masjid. Kalau
larangan itu semata-mata karena khawatir darah akan menetes dan merusak kesucian
masjid, seharusnya wanita yang sedang mengalami istihdhah pun dilarang masuk
masjid.
Namun wanita yang sedang haidh atau nifas, keduanya diharamkan masuk ke dalam
masjid, karena mereka dalam status hukum seperti itu, dilarang memasuki wilayah suci
di dalam masjid. Sementara i’tikaf itu tidak sah dikerjakan kecuali di dalam masjid,
maksudnya di bagian tempat yang suci.
Meski hadis yang melarang wanita haidh dan nifas untuk masuk ke masjid itu dikritisi
oleh para ulama hadis sebagai hadis yang lemah, namun dalil keharaman mereka untk
masuk masjid bukan semata-mata menggunakan hadis tersebut. Melainkan karena
secara status hukum, wanita yang sedang mendapat haidh dan nifas itu adalah orang
yang berhadas besar, atau berjanabah.
Artinya: “Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw.. bersabda “Tidak aku
halalkan masjid bagi orang yang haidh’ dan junub.” (HR. Abu Daud)
5) Suci dari hadas besar (janabah)
Orang yang sedang dalam keadaan berjanabah atau berhadas besar, diharamkan masuk
ke dalam masjid. Sehingga ia tidak boleh mengerjakan i’tikaf, lantaran i’tikaf itu hanya
dilaksanakan di dalam masjid saja.
Dasar atas larangan orang yang berjanabah atau berhadas besar berada di dalam masjid
adalah firman Allah Swt :
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan
mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (jangan pula hampiri masjid)
sedang kamu dalam keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu
mandi”. (QS. An-Nisa' : 43)
Secara tekstual, sebenarnya larangan dalam ayat tersebut adalah larangan untuk
mendekati salat. Namun ketika dalam ayat ini Allah membuat pengecualian, yaitu
hanya sekedar lewat, maka yang terbersit dari larangan ini adalah larangan untuk masuk
ke dalam masjid.
Sehingga pengertian ayat ini bahwa seorang yang dalam keadaan junub dilarang
memasuki masjid, kecuali bila sekedar melintas sajaAssalamu'alaikum
Hai anak-anakku semua semoga sehat ya...
Materi kali ini kalian fahami dan catat jika kesulitan lihat buku paket hal 126-128 lengkap ya!
1. 3. Bacaan Dzikir dan Doa Setelah Shalat Fardlu
Apakah kita pernah menjumpai bacaan-bacaan dzikir dan doa setelah shalat fardlu berbeda antara satu masjid dengan masjid lainnya? Banyak sekali tentang bacaan-bacaan dzikir dan doa yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits Nabi Saw. Para ulama berupaya menghimpun bacaan-bacaan sehingga memudahkan bagi umat Islam. Masing-masing memiliki pilihan tentang bacaan-bacaan yang harus dibaca setelah shalat fardlu
3
Hadits menjelaskan kelebihan berdzikir di sisi Allah dibanding amal perbuatan lainnya.
Hadits menjelaskan keutamaan berdzikir dan berdoa setelah shalat fardlu lima kali. lima kali. Kita dapat memilih salah satu diantara himpunan dzikir dan doa dari para ulama tersebut. Kita juga harus menghormati bacaan-bacaan yang berbeda dengan yang kita baca!
|
Dzikir dan Doa Setelah Shalat Isya’, Dhuhur, dan Ashar |
|
1. Membaca istighfar X 3. Bacaan dalam bentuk sangat pendek: Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Swt” Dapat pula menggunakan bacaan yang lebih lengkap: Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Swt Yang Maha Agung, tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Hidup, Berdiri Sendiri, dan saya bertaubat kepada-Nya”. |
|
2. Membaca X 1 doa berikut: Artinya: “Ya Allah, Engkaulah kedamaian dan dari-Mu datangnya keselamatan, dan kepada-Mu memohon keselamatan. Engkau Maha Berkah, dan Maha Tinggi Dzat yang memiliki Kegagahan dan Keagungan”. |
|
3. Membaca X 1 doa berikut: Artinya: “Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan dalam upaya memperbaiki ibadah kepada-Mu” |
|
4. Membaca ayat kursi X 1: Artinya: “Aku berlindung dari godaan Syaithan yang terkutuk. Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. |
|
5. Membaca An-Falaq X 1: Artinya: “Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan |
|
Lihat di Hal 126-128 Silahkan di lanjutkan...... |
Ayo kita cermati! Ada penambahan bacaan dzikir dan doa setelah shalat Maghrib dan Subuh dalam himpunan pertama ini. Jumlah bacaan dan urutan mulai nomor satu sampai dengan tiga dalam shalat maghrib dan subuh adalah sama dengan tiga shalat fardlu lainnya.
Perbedaannya, sebelum membaca urusan nomor empat (membaca ayat kursi) terdapat bacaan yang sebaiknya dibaca, yaitu: doa tahlil sebanyak sepuluh kali:
Artinya:
“Tiada Tuhan selain Allah, Dzat Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kekuasaan dan pujian. Dia yang Menghidupkan dan Mematikan. Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu”.
Dilanjutkan dengan membaca doa sebanyak sepuluh kali:
Artinya:
“Ya Allah, selamatkan aku dari api neraka”.
Setelah membaca dua doa di atas, kemudian meneruskan pada bacaan nomor empat hingga doa penutup.
Ayo kita bandingkan! Himpunan dzikir dan doa setelah shalat fardlu juga ada yang berbeda jauh antara shalat Dhuhur, Ashar, dan Isya’ dibandingkan dengan shalat Maghrib dan subuhAssalamu'alaikum Wr. Wb Salam sehat selalu dan tetap semangat untuk belajar, sebelum dimulai mari awali dengan berdoa. Materi hari ini t...